KUSTA DAN FRAMBUSIA PENYAKIT TERABAIKAN


Penyakit kusta bila tidak tidak dideteksi dan diobati secara dini berakibat cacat. Bila sudah cacat, penderitanya dijauhi, dikucilkan dan diabaikan sehingga sulit mendapatkan pekerjaan. Mereka menjadi sangat tergantung secara fisik dan finansial kepada orang lain yang pada akhirnya berujung pada kemiskinan.

Karena itu, rehabilitasi penderita dan mantan penderita kusta sangat penting. Adapun rehabilitasi yang dibutuhkan adalah rehabilitasi secara komprehensif, yang meliputi fisik, sosial dan ekonomi. Dengan rehabilitasi itu diharapkan, orang yang pernah mengalami kusta dapat memperoleh hak dan kesempatan yang sama untuk bekerja dan hidup dalam lingkungan sosial secara mandiri dan bermartabat.

Hal itu disampaikan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH, ketika membuka Pertemuan Aliansi Nasional Eliminasi Kusta (ANEK) dan Eradikasi Frambusia, di Jakarta 30 Agustus 2010.

”Misi program pengendalian penyakit kusta adalah menyembuhkan dan meningkatkan kualitas hidup penderita kusta. Kualitas hidup seseorang tidak hanya diukur dari aspek kesehatannya saja, akan tetapi juga dari aspek-aspek lain seperti sosial, ekonomi, emosional, dan hak azasi, sehingga perlu bermitra dengan sektor terkait”, tegas Menkes.

Menurut Menkes, program pengendalian kusta telah berhasil mengobati dan menyembuhkan 375.119 penderita dengan Multi-Drug Therapy (MDT) sejak 1990 dan telah menurunkan 80% jumlah penderita dari 107.271 pada tahun 1990 menjadi 21,026 penderita pada tahun 2009. Namun beban akibat kecacatan masih tinggi, yaitu sekitar 1.500 kasus cacat tingkat 2 ditemukan tiap tahunnya di Indonesia. Secara kumulatif sejak tahun 1990 – 2009, terdapat sekitar 30.000 kasus cacat tingkat 2 (mata tidak bisa menutup karena syarafnya terganggu, jari tangan atau kaki bengkok (kiting), luka pada telapak tangan dan kaki akibat mati rasa).

“Sejak tahun 2000, program pengendalian penyakit kusta Nasional melaporkan 17,000 – 18,000 kasus baru setiap tahun dan belum ada kecenderungan menurun. Proporsi kasus baru kusta MB (Multi Basiler/kuman banyak), kasus baru kusta dengan kecacatan tingkat 2, dan kasus baru kusta pada anak masih tetap tinggi. Indonesia masih merupakan negara ketiga di dunia dan kedua di Asia Tenggara sebagai negara dengan kasus baru kusta paling banyak”, ujar Menkes.

Menkes menambahkan, meskipun Indonesia telah mencapai eliminasi pada tingkat nasional, karena angka prevalensi < 1 per 10.000 penduduk pada tahun 2000, namun sampai saat ini masih ada 14 provinsi dengan jumlah kasus kusta tinggi. Empat provinsi diantaranya yakni Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan melaporkan lebih dari 1.000 kasus per tahunnya.

Melihat besarnya beban akibat kecacatan kusta, WHO mencanangkan target “Global Strategy for Further Reducing the Disease Burden Due to Leprosy 2011-2015” yakni menurunkan 35% angka cacat tingkat 2 pada tahun 2015 dari data tahun 2010.

Neglected Tropical Disease

Menurut Menkes, satu penyakit lagi yang termasuk dalam kelompok penyakit yang terabaikan (Neglected Tropical Disease), yang perlu mendapat perhatian adalah Frambusia.

Menurut Menkes, saat ini Indonesia merupakan penyumbang terbesar kasus Frambusia di Asia Tenggara. Meskipun secara nasional angka prevalensinya sudah sangat rendah, data frambusia tahun 2009 masih ditemukan 8.309 kasus yang tersebar di provinsi wilayah timur Indonesia yaitu NTT, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua dan Papua Barat, kata Menkes.

Tingginya jumlah kasus tersebut menunjukkan, penularan masih terus berlangsung. Hal itu disebabkan karena penderita frambusia banyak tinggal di daerah pedalaman yang keadaan lingkungannya kurang mendukung dan sulit dijangkau pelayanan kesehatan. Padahal, cara pengendaliannya sangat sederhana yaitu dengan satu kali penyuntikan benzatin penicillin penderitanya dapat disembuhkan.

Untuk itu diperlukan strategi pengendalian dengan melibatkan seluruh sektor dan elemen masyarakat agar eradikasi frambusia bisa segera tercapai. Secara nasional telah ditargetkan tahun 2013, sebagai tahun tercapainya Eradikasi Frambusia, ujarnya.

Selain Frambusia, penyakit lain yang termasuk dalam kelompok penyakit yang terabaikan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia adalah Filariasis (Kaki Gajah) dan Kecacingan. Keempat penyakit terabaikan ini memberikan gambaran visual yang amat nyata antara hubungan kesehatan dan pembangunan. Kondisi kemiskinan memicu berjangkitnya penyakit-penyakit ini, dan dampaknya akan berujung pada kemiskinan, imbuh Menkes.

Pada kesempatan tersebut Menkes menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada berbagai pihak seperti WHO, Netherlands Leprosy Relief (NLR), Sasakawa Memorial Foundation, Yayasan Transformasi Lepra Indonesia (YTLI), Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa), Yayasan Kusta Indonesia (YKI), Rumah Zakat dan semua elemen masyarakat yang telah bekerja aktif dalam penanggulangan penyakit Kusta, Frambusia dan dampak yang ditimbulkannya di Indonesia.

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof. Tjandra Yoga Aditama menyatakan tujuan pertemuan adalah meningkatkan komitmen pengambil kebijakan untuk mempercepat eliminasi kusta dan eradikasi frambusia di tingkat provinsi dan kabupaten.

Ditambahkan, berdasarkan laporan WHO tahun 2008, Indonesia menempati urutan ketiga negara penyumbang penderita kusta baru terbanyak setelah India dan Brazil. Tantangan yang dihadapi adalah statisnya tren penemuan penderita baru kus MB dan cacat tingkat 2.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s