PENGEMBANGAN KOTA SEHAT UNTUK MENGATASI MASALAH URBANISASI


Pemerintah bersama segenap komponen masyarakat harus lebih fokus dalam melaksanakan program aksi terutama upaya promotif dan preventif yang terkait dengan dampak urbanisasi pada kesehatan masyarakat, yaitu melalui pengembangan kota yang berwawasan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dalam membangun warga masyarakat yang sehat. Hal tersebut dikatakan Menteri Kesehatan RI dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH saat membuka acara Dialog Interaktif dalam Peringatan Hari Kesehatan Sedunia ke-62 di Balai Kartini, Jakarta pada Rabu (7/4/2010).

Menurut Menkes, permasalahan masyarakat di daerah urban atau perkotaan sangat kompleks dan dapat berdampak pada masalah ekonomi, sosial, peningkatan jumlah penduduk, serta perubahan lingkungan. Masalah-masalah yang muncul antara lain adalah pengangguran, sempitnya lahan untuk pemukiman, dan polusi udara yang akan berdampak kepada penurunan derajat kesehatan masyarakat di daerah urban atau perkotaan.

Menkes berharap tingkat urbanisasi di Indonesia yang melaju pesat tidak berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan masyarakat Salah satu cara mengantisipasinya adalah berupaya secara optimal dalam mewujudkan “Kota Sehat, Warga Sehat”. Hal ini merupakan sebuah langkah strategis yang diharapkan dapat mendorong dan memacu upaya pencapaian Indonesia Sehat, serta sejalan dengan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan yang menegaskan pentingnya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melaksanakan kewajibannya dalam mencegah terjadinya penyakit kemudian memelihara serta meningkatkan status kesehatannya melalui perilaku hidup bersih dan sehat.

Menkes mengatakan, tema yang dipilih Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Hari Kesehatan Sedunia ke-62 tahun 2010 adalah Urbanization And Health. Tema tersebut diangkat untuk mengingatkan kita tentang dampak urbanisasi terhadap kesehatan masyarakat dan kesehatan perorangan.

Slogan Hari Kesehatan Sedunia ke-62 adalah “1000 Kota, 1000 Kehidupan”. Slogan ini mengandung makna ajakan dan motivasi agar pimpinan dan para penentu kebijakan dapat merumuskan dan menerapkan kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Juga merupakan ajakan dan motivasi agar tokoh masyarakat dan penggerak masyarakat bersama masyarakat melakukan aksi peningkatan kesehatan di lingkungan kehidupannya, kata Menkes.

Menkes mengatakan Peringatan Hari Kesehatan Sedunia ini hendaknya dijadikan momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat serta kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa atau kelurahan, yang selama ini telah bersama-sama mengembangkan Desa Siaga.

Keberadaan Desa Siaga juga merupakan wujud nyata kesiapsiagaan masyarakat Indonesia untuk menghadapi fenomena triple burden, yakni masih tingginya penyakit menular seperti Malaria, Diare, Demam Berdarah diiringi meningkatnya penyakit tidak menular seperti jantung, hipertensi, stroke dan diabetes, dan diikuti munculnya New Emerging Infectious Diseases, seperti Flu Burung. Mewujudkan Desa Siaga Aktif merupakan jawaban yang tepat dalam merespon situasi triple burden ini, kata Menkes

Direktur Regional WHO untuk Asia Tenggara Dr. Samlee Plianbangchang dalam sambutannya yang dibacakan oleh perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. Khanchit Limpakarnjanarat mengatakan sepertiga dari populasi di 11 negara Asia Tenggara tinggal di perkotaan. Jumlah ini adalah separuh dari populasi perkotaan di dunia, yang diperkirakan meningkat hingga 60% pada tahun 2030 dan menjadi 70% pada tahun 2050. Lebih dari sepertiga penduduk kota tinggal di kawasan kumuh yang mempengaruhi kesehatan fisik, sosial dan mental penduduk kota yang menjadi tantangan pengelolaan dan pengaturan wilayah kota.

Urbanisasi adalah bagian dari perkembangan cepat Indonesia yang memiliki Jakarta sebagai mega city dunia dengan 17 juta orang penduduk yang hidup didalam dan sekitarnya, serta 8 kota lain yang berpenduduk lebih dari 1 juta orang. Agenda nasional perlu mengakomodir kesehatan perkotaan sebagai tolok ukur pembangunan serta menetapkan tujuan jangka pendek dan panjang. Sektor publik dan swasta dapat berbagi tanggung jawab dan bekerjasama demi kesejahteraanc berkelanjutan dan setara bagi seluruh penduduk, ujar Dr. Khanchit.

Pada dialog interaktif ini hadir 4 pembicara yang menggeluti masalah urbanisasi dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat perkotaan serta praktisi, yaitu Prof. dr. Purnama Junaedi, Ph.D, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, MPH, MARS, Prof. Dr. dr. Charles Suryadi, MPH dan Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, SH, M.Si.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan

2 thoughts on “PENGEMBANGAN KOTA SEHAT UNTUK MENGATASI MASALAH URBANISASI

  1. Assalamu Alaikum….
    Perasaan kenal Senior….
    Waktu liat, “HIMAKESMASSULTRA” di pencarian Google…… nd asing dengan organisasi itu senior,
    Pas qklik….eh ternyata Qt kanda…….
    Sukses menarik Blognya kanda..
    Hormatku…ikki “05” HIMAKESMASSULTRA STIK TM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s