Jurnal Kesehatan

POLA SPASIAL EPIDEMIOLOGI MALARIA DI KECAMATAN MAMUJU KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT

TAHUN 2008

Moh.Guntur Nangi 1, Ridwan Amiruddin 1, Arifin Seweng2

1Konsentrasi Epidemiologi FKM Universitas Hasanuddin

2Bagian Biostatistik FKM  Universitas Hasanuddin

Alamat Korespondensi : Bumi Sudiang Raya Blok J No.17

Contact Person : 085242752171

Email : mohamad.guntur@yahoo.com

BAGIAN EPIDEMIOLOGI

PROGRAM PASCASARJANA

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2009


ABSTRACT

Malaria is still a problem for World Health including Indonesia. Around 49,6% or approximately half people Indonesian assumed living in risky area of Malaria. The aim of this research is to analyze the epidemiological spatial pattern of Malaria in Mamuju Subdistrict in 2008 using Geographical Information System in case of mapping the distribute area to be as information in planning prevention and elimination Malaria Mamuju Subdsitrict. Type of research is Cross Sectional using Geographical Information System approach which is able to visualize, excess, sort, and analyze the data in spatial. The population is the whole cases of Malaria in Mamuju Subdistrict. Sample is the whole fill the condition was 266 Malaria patient. The analysis of the spatial pattern showed stratification high risk area malaria are Karampuang, Rimukku and Binanga village, trend case in characteristic area of height 51-100 mdpl is 224 cases (84,2%), area of the river bank with the buffer zone at the distance 3 Km is 51 cases (19,1%), the characteristics area in border beach/laguna with the buffer zone at the distance 3 Km is 56 cases (21%) and the access to the public health care centre  on malaria cases within 0 – 5 Km is 26 cases (9,7%).The particularity of spatial pattern of Malaria in Mamuju subdistricts is the characteristic of plateau, and border beach/laguna. The particularity of spatial pattern of Malaria in Mamuju subdistricts is the characteristic of plateau, and border beach/laguna. District Health Office of Mamuju is expected to develop the strategy in controlling certain areas with highest number of Malaria with the geographical characteristic which enable the spreading of Malaria in Mamuju Districts.

Keywords : Malaria, Geographical Information System, Spatial Pattern

PENDAHULUAN

Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting terutama di negara – negara tropik . Berbagai upaya pemberantasan malaria telah dilakukan tetapi prevalensi malaria masih tetap tinggi, hal ini disebabkan adanya berbagai hambatan dalam pemberantasan malaria diantaranya resistensi vector terhadap insektisida dan resistensi parasit terhadap obat anti malaria 1. Malaria menjadi masalah kesehatan masyarakat karena merupakan salah satu penyebab kematian terbesar bayi, anak umur dibawah umur lima tahun dan ibu melahirkan serta bagi orang dewasa yang terserang dapat mengurangi produktivitas sumber daya manusia. Pada keadaan tertentu dapat menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) atau wabah pada daerah-daerah yang non endemis, terutama didaerah yang terjadi perubahan lingkungan dan perpindahan penduduk atau transmigrasi2.

Diperkirakan ada 247 juta kasus malaria dari 3,3 milliar penduduk didunia pada tahun 2006, sedikitnya satu juta yang meninggal dunia dimana kebanyakan anak-anak dibawah 5 tahun. Pada tahun 2008, 109 negara merupakan daerah endemik  malaria, 45 diantaranya berada pada negara bagian afrika3. Kasus malaria di Indonesia terdapat 220.073 kasus sekaligus menduduki peringkat ke 34 diantara negara-negara dengan kasus malaria terbanyak pada tahun 2002. Case rate di Indonesia 1,01/1000 penduduk dan yang meninggal karena malaria 197 orang sekaligus menduduki peringkat ke 31 diantara negara-negara dengan tingkat kematian tertinggi karena malaria4.

Berdasarkan laporan hasil riset kesehatan dasar di provinsi Sulawesi Barat,menunjukan bahwa penyakit malaria tersebar di seluruh kabupaten dengan angka prevalensi yang beragam. Semua kabupaten, kasus malaria lebih banyak terdeteksi berdasarkan gejala klinis. Ada dua kabupaten mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional (0,2% – 2,9%), yaitu Kabupaten Mamuju dan Mamuju Utara. Kabupaten Mamuju sampai saat ini masih dinyatakan sebagai salah satu daerah endemis malaria dengan prevalensi kejadian malaria tahun 2007 sebesar 3,5% yang menunjukan diatas angka nasional5.

Upaya Pengendalian penyakit Malaria terutama upaya promosi kesehatan masih belum merata di seluruh provinsi terutama sejak memasuki era desentralisasi pelayanan kesehatan. Padahal, sebagai negara tropis, semua provinsi di Indonesia merupakan daerah endemis Malaria. Jadi, kesuksesan pengendalian penyakit tergantung improvisasi dan sesuai karakteristik tiap daerah6.

Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengetahui masalah malaria di Mamuju adalah dengan sistem informasi geografis (SIG). Penggunaan SIG memberikan informasi data secara spasial/keruangan sehingga dapat dipergunakan sebagai sarana pendukung upaya pengendalian ataupun pencegahan penyakit Malaria lebih terarah, efisien dan efektif. SIG menyediakan fasilitas untuk 1. Mengukur (Inventarisasi),2. Memetakan (Pemetaaan),3. Memonitor (Monitoring), dan Pemodelan (Modeling). Data spasial tersebut sebagai basis sistem informasi geografis dengan mengkombinasikan antara data spasial yang dijabarkan sebagai peta digital dan data attribute menjadi aplikasi program sistem informasi geografis sehingga data geografis yang ditampilkan kedalam peta tematik atau peta kompilasi akan mudah dibaca dan dimengerti 7.

BAHAN DAN METODE

Desain dan Lokasi Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observational dengan rancangan Cross Sectional Study dimana penentuan titik koordinat untuk pemetaan dilakukan pada satu waktu. Lokasi penelitian dilakukan di kecamatan Mamuju, kecamatan tersebut tergolong endemis malaria dan memiliki jumlah penduduk terbanyak dengan kepadatan penduduk diatas 200 jiwa/km2 8.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita Malaria  di Kecamatan  Mamuju Kabupaten Mamuju tahun 2008. Sampelnya adalah penderita malaria yang berdasarkan hasil diagnosa pemeriksaan positif menderita Malaria dan terdaftar dalam register di seluruh puskesmas di Kecamatan  Mamuju. Besar sampel yang terpilih dalam penelitian ini adalah sebanyak 266 setelah memenuhi kriteria yaitu Penderita Malaria yang pernah berkunjung dan terdaftar dalam register di puskesmas yang ada di wilayah kerja kecamatan Mamuju, Penderita yang hasil pemeriksaannya positif, berdomisili dan bertempat tinggal tetap diwilayah kerja kecamatan Mamuju, memiliki alamat tempat tinggal yang jelas.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan GPS garmin 12XL untuk mengambil titik koordinat kasus malaria. Titik koordinat  kasus malaria diambil berdasarkan alamat dari  buku register kasus malaria di masing-masing Puskesmas di kecamatan Mamuju. Data sekunder berupa peta dasar kecamatan Mamuju diperoleh dari Badan Pertanahan Kabupaten Mamuju.

Analisis Data

Analisa data spasial dengan aplikasi Arc View GIS 3.2 yang memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan, mengeksplorasi, memilah-milah data dan menganalisis data secara spasial. Data titik koordinat yang dikumpulkan oleh GPS,selanjutnya ditransfer ke “Map Source”.

HASIL PENELITIAN

Karakteristik Responden

Karakteristik responden dapat dilihat pada tabel 1, menunjukan bahwa dari 266 kasus malaria yg terpilih berdasarkan jenis kelamin sebanyak 167 orang (59%) dan perempuan sebanyak 99 orang(41%). Menurut kelompok umur, lebih banyak pada kelompok umur 5-9 tahun yaitu sebanyak 94 orang (35%). Dan berdasarkan kelurahan tempat tinggal, responden kasus malaria lebih banyak di kelurahan Binanga yaitu sebanyak 79 orang (30%).

Peta Distribusi Kasus Malaria Di Kecamatan Mamuju

Peta dsitribusi kasus malaria di kecamatan Mamuju dapat dilihat pada gambar 2, distribusi kasus malaria di kecamatan Mamuju tahun 2008, hampir merata di seluruh wilayah Kelurahan. Hal inii terlihat pada peta dimana kasus malaria terdapat disemua kelurahan yang ada, terlihat di Kelurahan Binanga dan Mamunyu yang terbanyak kasus malaria.

Stratifikasi Daerah Kasus Malaria

Stratifikasi daerah kasus malaria yang sangat rawan yaitu kelurahan Binanga, Rimukku dan Karampuang. wilayah dengan kategori rawan malaria yaitu Kelurahan Bambu sedangkan wilayah dengan kategori kurang rawan yaitu Kelurahan Karema,Mamunyu dan Tadui. Hal ini dapat dilihat pada gambar 3.

Peta Spasial Kasus Malaria Berdasarkan Ketinggian

Distribusi responden  jumlah kasus malaria berdasarkan ketinggian lebih banyak pada daerah yang memiliki ketinggian 51 – 100 mdpl  yaitu sebanyak 224 kasus ( 84,2%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.

Peta Spasial Kasus Malaria Pada Daerah Bantaran Sungai

Dari hasil analisis buffer daerah bantaran/tepi sungai  dengan zona buffer sejauh 3 Km pada gambar 5 menunjukan bahwa jumlah kasus pada daerah tersebut sebanyak 51 kasus(19,1%) dengan 2 sungai besar yang ada di kecamatan Mamuju.

Peta Spasial Kasus Malaria Pada Daerah Pinggir Pantai

Distribusi dan gambaran kasus malaria pada daerah tepi pantai di kecamatan Mamuju dapat dilihat pada gambar 5.Dari hasil analisis buffer (3km) daerah pinggir pantai/laguna di kecamatan Mamuju  menunjukan bahwa kasus malaria pada daerah buffer tersebut sebanyak 56 kasus (21%).

Akses Geografis Unit Pelayanan Kesehatan

Dari hasil analisis spasial dengan zona buffer 5 Km dari Pusat Pelayanan Kesehatan menunjukan bahwa jumlah kasus pada zona buffer untuk semua wilayah kerja puskesmas yang ada di Kecamatan Mamuju sebanyak 26 kasus (9,7%). Hal ini dapat dilihat pada gambar 5 tentang distribusi kasus malaria pada zona buffer (5Km) dari pusat pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

PEMBAHASAN

Pemetaan terhadap penyakit menular termasuk penyakit malaria akan memberikan tiga kontribusi utama yaitu (1) dengan menggunakan peta diharapkan muncul gambaran deskriptif mengenai distribusi serta penyebaran penyakit. Peta yang akurat dalam bentuk sekuens diharapkan dapat menjawan pertanyaan apa yang terjadi dan mengapa. (2) keberadaan peta diharapkan dapat memberikan aspek prediktif penyebaran penyakit menular. (3) model interaktif, jika pada tahap dua, pola prediksi hanya sebatas ramalan penyakit, tetapi jika menggunakan pendekatan interaktif, kita dapat menentukan intervensi serta dampaknya bagi masa depan9.

Stratifikasi Daerah Kasus Malaria

Penentuan wilayah dengan tingkat kerawanan secara administratif ini dimaksudkan agar penanganan malaria lebih difokuskan pada  komunitas yang berisiko maupun wilayah rawan. Selain itu memberikan informasi kepada masyarakat yang ingin berpergian atau berkunjung kedaerah tersebut sehingga pencegahan penularan penyakit malaria dilakukan lebih dini.

Peta Spasial Kasus Malaria Berdasarkan Ketinggian

Penularan malaria dominan dipengaruhi oleh altitude/ketinggian. Hal tersebut berdasarkan pada peranan ketinggian mempengaruhi distribusi suhu udara yang mempengaruhi proses metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan nyamuk10.

Peta Spasial Kasus Malaria Pada Daerah Bantaran Sungai

Distribusi kasus malaria yang diperoleh berdasarkan gambar 3 memperlihatkan kasus malaria lebih banyak terjadi pada daerah muara sungai, hal ini disebabkan pada daerah muara, aliran air  sungai yang kurang deras sehingga memungkinkan untuk menjadi daerah perindukan nyamuk yang mempengaruhi penyebaran kasus pada daerah tersebut.

Peta Spasial Kasus Malaria Pada Daerah Pinggir Pantai/Laguna

Kasus malaria pada daerah pinggir pantai/laguna di kecamatan Mamuju menunjukan tidak adanya kecenderungan penyebaran kasus pada wilayah buffer sejauh 3 Km, hal ini bisa disebabkan karena pengaruh kecepatan angin pada wilayah pingir pantai mengingat daerah pinggir pantai yang memiliki ketinggian yang rendah yaitu 0,5 – 25 mdpl dan kecamatan mamuju berhadapan bebas langsung dengan selat Makassar sehingga mempengaruhi penyebaran dari nyamuk Anpoheles pada daerah pinggir pantai.

Akses Geografis Unit Pelayanan Kesehatan

Jarak dan transportasi merupakan faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk menuju ke suatu unit pelayanan kesehatan kepada masyarakat, bagi puskesmas yang lokasinya strategis, dekat dengan pemukiman penduduk, sarana dan prasarananya lengkap, dan mudah mendapatkan sarana tranportasi maka banyak dikunjungi oleh pasien, akan tetapi bila lokasi pelayanan jauh dari pemukiman penduduk dan jauh dari sarana transportasi maka kunjungan pasiennya akan lebih sedikit 11.

KESIMPULAN

Stratifikasi daerah/Kelurahan di  Kecamatan Mamuju yang tergolong sangat rawan yaitu Kelurahan Karampuang,Binanga dan Rimukku. Berdasarkan ketinggian cenderung pada daerah yang memiliki ketinggian 51 – 100 mdpl. Wilayah bantaran/tepi sungai di Kecamatan Mamuju menunjukan tidak adanya kecenderungan kasus malaria pada wilayah tersebut dengan zona buffer 3 Km sebanyak 51 kasus (19,1%), Wilayah pinggir pantai/laguna di Kecamatan Mamuju menunjukan tidak adanya kecenderungan kasus malaria pada wilayah tersebut dengan zona buffer 3 Km sebanyak 56 kasus (21%). Kekhususan pola spasial malaria di Kecamatan Mamuju yaitu distribusi kasus malaria yang tidak merata di setiap wilayah Kelurahan, adanya pengelompokan/kluster kasus pada beberapa wilayah kelurahan seperti Binanga dan Rimukku, serta adanya kecenderungan kasus malaria pada daerah ketinggian yang rendah. Meningkatkan strategi penanggulangan khususnya pada daerah-daerah angka kejadian malaria yang tinggi dengan karakteristik geografis yang mendukung penyebaran malaria di Kabupaten Mamuju.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Harijanto, P.N. 2000. Malaria Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis, dan Penanganannya. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
  2. Depkes RI,2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Terjemahan olehI Nyoman Kandun,Jakarta.
  3. WHO,2008. World Malaria Report 2008(http://www..who.int) diakses tanggal 10 Januari 2009
  4. WHO.UNICEF.RBM. 2006. Malaria Burden, World Malaria Report (Online) (http://www.rbm.who.int) diakses tanggal 10 Januari 2009
  5. Depkes R.I, 2008, Laporan Hasil RISKESDA di Sulawesi Barat 2007, BPPK Depkes RI, Jakarta
  6. Wandra,Toni.2008. Malaria dan penanggulangannya (www.cyberkompas.co.id) diakses tanggal 13 November 2008.
  7. Prahasta, Edy, 2005. Sistem Informasi Geografis. Bandung, CV.Informatika.
  8. Dinkes Kabupaten Mamuju , 2005,  Profil Kesehatan Kabupaten Mamuju
  9. Anis, Fuad. 2006. Medical Geography Subject Baru atau lama dengan Kemasan Baru?. Artikel. (http://bloganis.com, diakses 23/05/2009).

10.Harijanto, P.N. 2000. Malaria Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis, dan Penanganannya. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

11.Abednego, H.M. 1996. Situasi Malaria dan Masalah Penanggulangannya di Indonesia.Dirjen PPM & PLP. Jakarta.

Tabel 1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin,umur dan Kelurahan Tempat Tinggal

Di Kecamatan Mamuju Tahun 2008.

Karakteristik responden
Jumlah %
Jenis Kelamin
Laki-laki 167 59
Perempuan 99 41
Jumlah 266 100
Kelompok Umur
≤ 4 22 8,3
5 – 9 94 35
10 – 14 41 15
15 – 19 25 9,4
20 – 24 15 5,6
25 – 29 10 3,8
30 – 39 15 5,6
40 – 44 12 4,5
45 – 49 13 4,9
50 – 54 7 2,6
≥ 55 12 4,5
Jumlah 266 100
Kelurahan
Tadui 2 0,8
Bambu 30 11
Mamunyu 74 28
Binanga 79 30
Rimukku 18 6,8
Karema 47 18
Karampuang 16 6
Jumlah 266 100

Gambar 1 Peta Sulawesi Dengan Inset Sebelah Kiri Provinsi Sulawesi Barat.

Gambar 2: Peta Distribusi Kasus Malaria Di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008.

Gambar 3 : Peta Stratifikasi Daerah Kasus Malaria di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju  Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008.

Gambar 4 : Peta Spasial Kasus Malaria Berdasarkan Ketinggian di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju  Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008.

Gambar 5 : Overlay Peta Kasus Malaria Pada Daerah Buffer Sungai Dan Pinggir Pantai  di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju  Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s