Makan Daging Sapi dan Berkurangnya Sperma


Makan Daging Sapi dan Berkurangnya Sperma

jdokter- Konsumsi daging sapi oleh perempuan selama hamil dapat merubah perkembangan testis uterus pada anak laki-laki dan membahayakan kemampuan reproduktif dimasa yang akan datang, demikian laporan para peneliti.

 Tindakan yang harus dilakukan

Jelaskan kepada para pasien yang menanyakan bahwa FDA mengijikan batas minimal residu hormon, yang dimasukkan setiap hari dengan dosis yang dapat diterima, dalam penyembelian daging sapi, residu ini kemungkinan dapat mempengaruhi kualitas semen pada orang laki-laki yang ibunya makan banyak daging sapi selama hamil.

Terangkan bahwa studi ini tidak terbukti adanya hubungan kasual antara asupan daging sapi pada ibu atau asupan steroid anabolic dan konsentrasi sperma.

 Hasilnya bisa jadi berupa steroid anabolic residu dalam daging tersebut. Shanna Swan, Ph.D., dan rekan dari University of Rochester (N.Y.) melaporkan secara online tanggal 28 Maret dalam terbitan Human Reproduction.

Dalam studi yang terdiri dari 387 pasangan subur perempuan hamil, laki-laki yang ibunya dilaporkan makan lebih dari tujuh potong daging sapi dalam seminggu saat hamil, memiliki konsentrasi sperma kurang dari 24% dibandingkan dengan mereka yang makan daging sapi kurang dari jumlah tersebut, demikian temuan mereka.

Selain itu, laki-laki yang banyak mengkonsumsi daging sapi memiliki tiga kali lipat konsentrasi sperma yang termasuk dalam klasifikasi sebagai sub-subur menurut standar World Health Organization, dibandingkan dengan orang laki-laki yang ibunya sedikit makan daging sapi, kata Dr. Swan dan rekan.

Meskipun di Amerika Serikat melarang pengembangan promoter diethylstilbestrol (DES) yang digunakan pada anak sapi pada 1954, hormon lain seperti estradiol, testosterone, progesterone dan synthetic hormones zerano; trenbolone acetate, dan melengestrol masih digunakan. Kata Dr. Swan.

 Karena residu bahan kimia tetap bertahan setelah penyembelian, FDAtelah mengatur penggunaannya, yang ditentukan sebagai “asupan harian yang dapat diterima.” Di Eropa, penggunaan hormone sistentik dan alamiah ini telah dilarang sejak 1988.

 “Asupan harian yang bisa diterima ini didasarkan pada uji toxicology tradisional, dan kemungkinan timbulnya efek pada pertumbuhan manusia yang terbuka terhadap residu hormon sek anabolic melalui konsumsi daging tidak pernah dilakukan penelitian demikian menurut Dr. Swan dan rekan. Oleh karena itu, dia menambahkan konsumsi daging oleh wanita hamil dan anak-anak menjadi perhatian khusus.

 Studi dilakukan di lima kota di Amerika Serikat antara 1999 dan 2005 dan menggunakan catatan ibu mengenai jumlah daging sapi yang mereka makan. Konsentrasi sperma sebaliknya terkait dengan konsumsi daging sapi oleh ibu dalam setiap minggunya (P=0.041), demikian laporan para peneliti.

Pada anak laki-laki yang banyak memakan daging sapi (lebih dari tujuh kali memakan daging sapi dalam seminggu), konsentrasi seprma sebesar 24.3% lebih rendah (P=0.014). Anak laki-laki yang mengkonsumsi banyak daging sapi memiliki rata-rata konsentrasi sperma 43.1 juta sperma/ml cairan semen, sementara pada anak laki-laki yang ibunya makan sedikit daging sapi memiliki rata-rata 56.9 juta sperma.

 Perbandingan laki-laki dengan konsentrasi sperma dibawah batas terendah subfertilitas WHO (20 x 106/ml) adalah tiga kali lebih tinggi (17.7% terhadap 5.7%. P=0/002) dari pada laki-laki yang ibunya sedikit mengkonsumsi daging sapi.

 Riwayat subfertilitas sebelumnya juga sering terjadi diantara anak laki-laki yang banyak mengkonsumsi daging sapi (P=0.015), demikian dilaporkan para peneliti.

Konsentrasi sperma tidak terlalu terkait dengan konsumsi makanan lain yang dilakukan oleh ibunya (daging babi, daging kambing, daging anak lembu) atau konsumsi daging pada orang laki-laki, demikian temuan para peneliti. Juga pada ibu yang mengkonsumsi daging ayam, ikan, produk dari bahan kacang dan sayuran nampak tidak membayakan.

 Rata-rata, ibu makan 3.4 daging sapi dalam setiap minggunya dan hanya 15 (4%) dilaporkan tidak makan daging sapi selama hamil, sementara 336 makan daging sapi tujuh kali atau kurang dalam setiap minggunya, dan 51 dilaporkan makan daging sapi lebih dari tujuh kali dalam setiap minggunya, demikian laporan para peneliti.

 Perempuan yang banyak memakan daging sapi juga banyak memakan makanan merah dan lebih banyak tinggal di Amerika Utara yang pada saat bersamaan anak laki-laki mereka dilahirkan oleh ibu mereka yang sedikit mengkonsumsi daging.

 Akan tetapi, para peneliti menjelaskan bahwa sebagian besar ibu dalam studi ini tinggal di Amerika Utara dan penemuan ini tidak berlaku untuk daerah lain yang memproduksi daging sapi dengan cara lain.

 Para peneliti juga mencatat bahwa mereka tidak dapat mengatur pembauran yang tidak dapat dikenali yang terkait penemuan. Misalnya, mereka menyebutkan, pestisida, kontaminan lain dalam makanan hewani, dan factor gaya hidup yang terkait dengan konsumsi daging sapi yang cukup banyak dapat memainkan peranan mengenai efek yang telah diamati.

 Mereka juga mengatakan heterocyclic amines, menghasilkan daging merah dingin dan proses yang juga menghasilkan estrogen.

 “Apakah pembukaan sebelum melahirkan untuk steroid anabolic bertanggungjawab atas penemuan kami  baik seluruhnya maupun sebagian yang dijelaskan dengan mengulang studi ini pada orang yang dilahirkan di Eropa setelah 1988 ketika steroid anabolik tidak diperbolehkan lagi diberikan daging sapi atau yang dihasilkan disini.” Demikian kesimpulan tim Dr. Swan.

Sumber :jdokter.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s