PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR PADA PENGUNGSIAN


Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yg disebabkan oleh alam atau manusia yg mengakibatkan timbulnya korban & penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana prasarana umum, gangguan terhadap tata kehidupan & penghidupan masyarakat serta pembangunan nasional, sehingga untuk pemulihannya memerlukan bantuan dari luar.

Pengetahuan untuk pengelolaan bencana sangat penting untuk mengantisipasi penyakit menular saat dan pasca bencana. Bila usaha tidak segera dilakukan maka akan terjadi hal yang lebih buruk. Yang paling penting adalah melindungi pengadaan air bersih, suplai makanan serta menyediakan sanitasi lingkungan yang baik, serta memonitor kondisi masyarakat secara cepat.

Baca lebih lanjut

2010 in review


The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 10,000 times in 2010. That’s about 24 full 747s.

 

In 2010, there were 23 new posts, growing the total archive of this blog to 45 posts. There were 19 pictures uploaded, taking up a total of 31mb. That’s about 2 pictures per month.

The busiest day of the year was November 30th with 104 views. The most popular post that day was Kumpulan Soal TEs CPNS Gratis.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were id.wordpress.com, google.co.id, eka.web.id, 96147.com, and search-results.com.

Some visitors came searching, mostly for pengertian epidemiologi, istilah epidemiologi, istilah-istilah epidemiologi, materi epidemiologi, and artikel kesehatan.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Kumpulan Soal TEs CPNS Gratis November 2007
28 comments

2

PENGERTIAN DAN PERANAN EPIDEMIOLOGI November 2007
5 comments

3

Istilah-istilah Epidemiologi(Terminology) November 2007
2 comments

4

Artikel Kesehatan December 2007

5

MATERI KULIAH PASCA October 2007
5 comments

Efektivitas Penggunaan Malathion Dalam Pemberantasan Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Kendari (Alias,SKM)


Ringkasan

 

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mandala Waluya Kendari

Kesehatan Masyarakat Jurusan Epidemiologi

Skripsi,     Juli 2010

 

ALIAS . Efektivitas Penggunaan Malathion Dalam Pemberantasan            Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Kendari

 

Pengendalian vektor penyakit Demam Berdarah Dengue masih menggunakan penyemprotan dengan thermal foging salah satunya di Kota Kendari, namun metode ini di samping mempunyai efek yang merugikan  bagi manusia dan lingkungan juga dapat menyebabkan kekebalan pada vektor sasaran bila penggunaan konsentrasinya tidak sesuai lagi dengan standar.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan malathion dalam pemberantasan vektor penyakit Demam Berdarah Dengue.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini adalah semua nyamuk Aedes sp yang diperoleh melalui pembiakan jentik di Laboratorium Entomologi AKL-MW Sultra dengan jumlah sampel 15 ekor nyamuk Aedes sp betina untuk setiap kurungan percobaan.

Dari hasil penelitian menunjukan bahwa persentase kematian nyamuk sebesar 45 % untuk konsentrasi malathion 4 % sedangkan persentase kematian pada konsentrasi malathion 8 % dan 16 % masing-masing sebesar 100 %.

Hasil analisis statistik dengan uji korelasi diperoleh nilai r = 0.87 menunjukan korelasi positif artinya semakin tinggi konsentrasi malathion semakin tinggi pula persentase kematian nyamuk uji. Uji hipotesis menunjukkan nilai Zo > Z tab (1.515 > 0.878) artinya ada pengaruh konsentrasi malathion dalam pemberantasan vektor penyakit DBD pada taraf kepercayaan 95 % (α=0.05). untuk persamaan regresi liniernya adalah Y = 0.1855 + 0.061X, sehingga LD 50 berada pada dosis 5.15 % dan LD 95 berada pada dosis 12.5 %. Dengan demikian konsentrasi malathion 5 % tidak efektif untuk digunakan lagi di Kota Kendari. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Kendari agar mencari alternatif insektisida lain dalam pemberantasan vektor penyakit DBD.

 

Daftar Pustaka         : 27 (1986-2010)

Kata Kunci : Efektivitas, Malathion, Vektor, Penyakit DBD

Baca lebih lanjut

IMUNISASI EFEKTIF MENEKAN ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN BAYI


Masalah kematian akibat campak di dunia pada tahun 2002 sebanyak 777.000 di antaranya 202.000 berasal dari Negara ASEAN, dan 15% dari kematian campak tersebut berasal dari Indonesia. Diperkirakan 30.000 anak Indonesia meninggal tiap tahunnya disebabkan komplikasi campak, artinya 1 anak meninggal tiap 20 menit karena setiap tahunnya lebih dari 1 juta anak Indonesia belum terimunisasi campak. Campak salah satu Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) dan merupakan salah satu penyebab kematian anak di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5 % pada anak balita adalah akibat PD3I.  Salah satu upaya yang efektif untuk menekan angka kesakitan dan kematian bayi dan balita adalah dengan imunisasi, sedangkan upaya imunisasi akan efektif bila cakupan dan kualitasnya sudah optimal.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI Dr.Ratna Rosita Hendardji, MPHM saat kampanye imunisasi campak dan polio di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, 6 Oktober 2010.
Sesjen menjelaskan program Imunisasi rutin campak di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1984 dengan kebijakan memberi 1 dosis pada bayi usia 9 bulan. Pada awal pelaksanaan tahun 1984 cakupan campak sebesar 12,7%, kemudian meningkat sampai 85,4% pada tahun 1990 dan bertahan sampai 91,8 % pada tahun 2004.

Namun demikian dengan mempertimbangkan serokonversi (perkembangan antibodi yang dapat dideteksi pada mikroorganisme dalam serum sebagai akibat dari infeksi atau imunisasi) rate 85% pada bayi umur 9 bulan, cakupan Imunisasi campak sebesar 91,8% pada tahun 2004 hanya dapat melindungi sekitar 76,5 % bayi, sisanya sebesar 23,5 % masuk dalam kelompok rentan campak. Kelompok rentan ini akan terus terakumulasi yang berisiko mengakibatkan KLB Campak, karenanya diperlukan intervensi imunisasi tambahan campak pada anak balita, ujar Sesjen.

Menurut Sesjen, sesuai dengan kajian Depkes RI bersama Technical Advisory Group (TAG)/Komite Ahli Imunisasi Idonesia, WHO dan UNICEF terhadap upaya pengendalian penyakit campak yang didasarkan pada data epidemiologis, akumulasi anak balita tidak mendapatkan imunisasi dan anak-anak yang tidak mendapatkan kekebalan setelah pemberian satu dosis campak karena beberapa faktor diantaranya rendahnya imunisasi rutin maupun imunisasi tambahan yang dilakukan sebelumnya (2005-2007).
Untuk itu Kampanye Imunisasi Campak dan polio di Indonesia dilaksanakan secara bertahap selama tahun 2009 – 2011 yang telah dituangkan melalui SK Menteri Kesehatan Nomor 143/Menkes/SK/VI/2009 tentang Penyelenggaraan Kampanye Campak dan Polio Tambahan secara bertahap tahun 2009-2011, yaitu:
•    Tahap pertama, tahun 2009 dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 di 3 provinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara dan Maluku Utara.
•    Tahap kedua, Tahun 2010, dilaksanakan pada bulan Oktober di 11 Provinsi yaitu Maluku, Papua Barat, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur dan Banten;
•    Sedangkan, Tahap ketiga, Tahun 2011 akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2011 di 14 provinsi: Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Papua.

Sesjen menyampaikan apresiasinya kepada Gubernur Sumatera Barat beserta seluruh jajaran pemerintah daerah, organisasi-organisasi, dan seluruh masyarakat yang telah mendukung penyelenggaraan kampanye campak dan polio tambahan ini.

Sesjen juga berharap penyelenggaraan kampanye campak dan polio di Provinsi Sumatera Barat ini dapat berjalan dengan baik dan dapat menjangkau seluruh sasaran yang ada, termasuk bayi-bayi yang ada di pulau-pulau terpencil. Tentunya dengan dukungan program dan sektor terkait. Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota beserta jajarannya juga diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kampanye ini.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

PERKEMBANGAN HIV/AIDS DI INDONESIA SAMPAI JUNI TAHUN 2010


Pada periode triwulan kedua tahun 2010 terdapat penambahan kasus AIDS sebanyak 1.206 kasus. Sebanyak 36 kabupaten/kota dari 16 provinsi melaporkan hal tersebut yaitu NAD, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Dengan demikian, sampai tanggal 30 Juni 2010, secara kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sejak tahun 1978 berjumlah 21.770 dari 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1. Kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Riau dan Sumatera Barat. Rate kumulatif kasus AIDS nasional sampai 30 Juni 2010 adalah 9,44 kasus per 100.000 penduduk. Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari Provinsi Papua (14,34 kali angka nasional), Bali (5,2 kali angka nasional), DKI Jakarta (4,4 kali angka nasional), Kep. Riau (2,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (1,8 kali angka nasional), Maluku (1,5 kali angka nasional), Bangka Belitung (1,2 kali angka nasional), Papua Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Riau (1,0 kali angka nasional).

Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20-29 tahun (48,1%), diikuti kelompok umur 30-39 tahun (30,9%), dan kelompok umur 40-49 (9,1%). Sementara cara penularan terbanyak adalah melalui hubungan heteroseksual (49,3%), Injection Drug Use/IDU (40,4%), Lelaki Seks Lelaki (3,3%), dan perinatal (2,7%).

Proporsi kasus AIDS yang dilaporkan meninggal sebesar 19,0%. Infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah TBC (10.648 kasus), diare kronis (6.392 kasus), Kandidiasis oro-faringenal (6.412 kasus), Dermatitis generalisata (1.623 kasus), dan Limfadenopati generalisata persisten (770 kasus).

Sementara untuk kasus HIV positif, sampai dengan 30 Juni 2010 secara kumulatif berjumlah 44.292 kasus dengan positive rate rata-rata 10,3%. Jumlah kasus baru pada triwulan kedua 2010 sebanyak 3.916 kasus. Daerah yang paling banyak terjadi kasus HIV positif adalah DKI Jakarta (9.804 kasus), Jawa Timur (5.973 kasus), Jawa Barat (3.798  kasus), Sumatera Utara (3.391 kasus), Papua (2.947 kasus), dan Bali (2.505 kasus).

Sampai saat ini HIV/AIDS belum ada vaksin maupun obatnya. Obat yang ada adalah  (ARV=Anti Retroviral Virus) yang berfungsi hanya untuk menekan perkembangan virus. Perawatan HIV di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2005 dengan jumlah yang masih dalam pengobatan ARV pada tahun 2005 sebanyak 2.381 (61% dari yang pernah menerima ARV).
Kemudian sampai 30 Juni 2010 terdapat 16.982 ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang masih menerima ARV (60,3% dari yang pernah menerima ARV). Jumlah ODHA yang masih dalam pengobatan ARV tertinggi berasal dari DKI Jakarta (7.242), Jawa Barat (2.001), Jawa Timur (1.517), Bali (984), Papua (685), Jawa Tengah (575), Sumatera Utara (570), Kalimantan Barat (463), Kepulauan Riau (426), dan Sulawesi Selatan (343). Kematian ODHA menurun dari 46% pada tahun 2006 menjadi 18% pada tahun 2009.

Demikian laporan situasi perkembangan HIV/AIDS di Indonesia triwulan kedua tahun 2010 berdasarkan data dari Sub Direktorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP &PL) Kemenkes.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.