2010 in review


The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 10,000 times in 2010. That’s about 24 full 747s.

 

In 2010, there were 23 new posts, growing the total archive of this blog to 45 posts. There were 19 pictures uploaded, taking up a total of 31mb. That’s about 2 pictures per month.

The busiest day of the year was November 30th with 104 views. The most popular post that day was Kumpulan Soal TEs CPNS Gratis.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were id.wordpress.com, google.co.id, eka.web.id, 96147.com, and search-results.com.

Some visitors came searching, mostly for pengertian epidemiologi, istilah epidemiologi, istilah-istilah epidemiologi, materi epidemiologi, and artikel kesehatan.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Kumpulan Soal TEs CPNS Gratis November 2007
28 comments

2

PENGERTIAN DAN PERANAN EPIDEMIOLOGI November 2007
5 comments

3

Istilah-istilah Epidemiologi(Terminology) November 2007
2 comments

4

Artikel Kesehatan December 2007

5

MATERI KULIAH PASCA October 2007
5 comments

PENGEMBANGAN KOTA SEHAT UNTUK MENGATASI MASALAH URBANISASI


Pemerintah bersama segenap komponen masyarakat harus lebih fokus dalam melaksanakan program aksi terutama upaya promotif dan preventif yang terkait dengan dampak urbanisasi pada kesehatan masyarakat, yaitu melalui pengembangan kota yang berwawasan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dalam membangun warga masyarakat yang sehat. Hal tersebut dikatakan Menteri Kesehatan RI dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH saat membuka acara Dialog Interaktif dalam Peringatan Hari Kesehatan Sedunia ke-62 di Balai Kartini, Jakarta pada Rabu (7/4/2010).

Menurut Menkes, permasalahan masyarakat di daerah urban atau perkotaan sangat kompleks dan dapat berdampak pada masalah ekonomi, sosial, peningkatan jumlah penduduk, serta perubahan lingkungan. Masalah-masalah yang muncul antara lain adalah pengangguran, sempitnya lahan untuk pemukiman, dan polusi udara yang akan berdampak kepada penurunan derajat kesehatan masyarakat di daerah urban atau perkotaan.

Menkes berharap tingkat urbanisasi di Indonesia yang melaju pesat tidak berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan masyarakat Salah satu cara mengantisipasinya adalah berupaya secara optimal dalam mewujudkan “Kota Sehat, Warga Sehat”. Hal ini merupakan sebuah langkah strategis yang diharapkan dapat mendorong dan memacu upaya pencapaian Indonesia Sehat, serta sejalan dengan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan yang menegaskan pentingnya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melaksanakan kewajibannya dalam mencegah terjadinya penyakit kemudian memelihara serta meningkatkan status kesehatannya melalui perilaku hidup bersih dan sehat.

Menkes mengatakan, tema yang dipilih Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Hari Kesehatan Sedunia ke-62 tahun 2010 adalah Urbanization And Health. Tema tersebut diangkat untuk mengingatkan kita tentang dampak urbanisasi terhadap kesehatan masyarakat dan kesehatan perorangan.

Slogan Hari Kesehatan Sedunia ke-62 adalah “1000 Kota, 1000 Kehidupan”. Slogan ini mengandung makna ajakan dan motivasi agar pimpinan dan para penentu kebijakan dapat merumuskan dan menerapkan kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Juga merupakan ajakan dan motivasi agar tokoh masyarakat dan penggerak masyarakat bersama masyarakat melakukan aksi peningkatan kesehatan di lingkungan kehidupannya, kata Menkes.

Menkes mengatakan Peringatan Hari Kesehatan Sedunia ini hendaknya dijadikan momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat serta kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa atau kelurahan, yang selama ini telah bersama-sama mengembangkan Desa Siaga.

Keberadaan Desa Siaga juga merupakan wujud nyata kesiapsiagaan masyarakat Indonesia untuk menghadapi fenomena triple burden, yakni masih tingginya penyakit menular seperti Malaria, Diare, Demam Berdarah diiringi meningkatnya penyakit tidak menular seperti jantung, hipertensi, stroke dan diabetes, dan diikuti munculnya New Emerging Infectious Diseases, seperti Flu Burung. Mewujudkan Desa Siaga Aktif merupakan jawaban yang tepat dalam merespon situasi triple burden ini, kata Menkes

Direktur Regional WHO untuk Asia Tenggara Dr. Samlee Plianbangchang dalam sambutannya yang dibacakan oleh perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. Khanchit Limpakarnjanarat mengatakan sepertiga dari populasi di 11 negara Asia Tenggara tinggal di perkotaan. Jumlah ini adalah separuh dari populasi perkotaan di dunia, yang diperkirakan meningkat hingga 60% pada tahun 2030 dan menjadi 70% pada tahun 2050. Lebih dari sepertiga penduduk kota tinggal di kawasan kumuh yang mempengaruhi kesehatan fisik, sosial dan mental penduduk kota yang menjadi tantangan pengelolaan dan pengaturan wilayah kota.

Urbanisasi adalah bagian dari perkembangan cepat Indonesia yang memiliki Jakarta sebagai mega city dunia dengan 17 juta orang penduduk yang hidup didalam dan sekitarnya, serta 8 kota lain yang berpenduduk lebih dari 1 juta orang. Agenda nasional perlu mengakomodir kesehatan perkotaan sebagai tolok ukur pembangunan serta menetapkan tujuan jangka pendek dan panjang. Sektor publik dan swasta dapat berbagi tanggung jawab dan bekerjasama demi kesejahteraanc berkelanjutan dan setara bagi seluruh penduduk, ujar Dr. Khanchit.

Pada dialog interaktif ini hadir 4 pembicara yang menggeluti masalah urbanisasi dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat perkotaan serta praktisi, yaitu Prof. dr. Purnama Junaedi, Ph.D, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, MPH, MARS, Prof. Dr. dr. Charles Suryadi, MPH dan Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, SH, M.Si.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan

BERSAMA KITA BERANTAS MALARIA


Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian ibu hamil, bayi dan balita. Setiap tahun lebih dari 500 juta penduduk dunia terinfeksi malaria dan lebih dari 1.000.000 orang meninggal dunia. Kasus terbanyak terdapat di Afrika dan beberapa negara Asia termasuk Indonesia, Amerika Latin, Timur Tengah dan beberapa bagian negara Eropa.

Sedangkan di Indonesia, sampai tahun 2009, sekitar 80% Kabupaten/Kota masih termasuk katagori endemis malaria dan sekitar 45% penduduk bertempat tinggal di daerah yang berisiko tertular malaria.Sementara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 1.143.024 orang. Jumlah ini mungkin lebih kecil dari keadaan yang sebenarnya karena lokasi yang endemis malaria adalah desa-desa yang terpencil dengan sarana transportasi yang sulit dan akses pelayanan kesehatan yang rendah.

Untuk mengatasi malaria, pada pertemuan WHA 60 tanggal 18-23 Mei 2007 telah disepakati komitmen global tentang eliminasi malaria setiap negara dan merekomendasikan bagi negara-negara yang endemis malaria memperingati Hari Malaria Sedunia setiap tanggal 25 April. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja dalam menuju eliminasi malaria serta meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat dalam penanggulangan dan pencegahan malaria.

Tahun ini merupakan tahun ketiga peringatan Hari Malaria Sedunia dengan tema ”BERSAMA KITA BERANTAS MALARIA”. Tujuannya untuk meningkatkan kemitraan dalam mencapai eliminasi malaria di Indonesia. Selain itu juga untuk meningkatnya kesadaran para mitra untuk berperan aktif dalam eliminasi malaria, meningkatnya komitmen para penentu kebijakan di Pusat dan Daerah untuk melakukan eliminasi malaria, serta meningkatnya kemitraan dalam kegiatan eliminasi malaria.

Peringatan Hari Malaria Sedunia (HMS) tahun 2010 diharapkan dapat lebih meningkatkan advokasi, edukasi dan sosialisasi kepada semua stakeholder dan masyarakat sehingga eliminasi malaria dapat segera dicapai. Mengingat malaria merupakan masalah yang komplek terkait dengan aspek penyebab penyakit (parasit), lingkungan (fisik dan biologis) dan nyamuk sebagai vektor penular maka eliminasi malaria harus dilaksanakan secara bersama dengan para mitra terkait dan menjadi bagian integral dari pembangunan nasional.

Peringatan HMS Tahun 2010 diisi dengan berbagai kegiatan di Pusat maupun Daerah, diantaranya Workshop Nasional tentang Penelitian Malaria di Indonesia tanggal 10 Mei 2010, Workshop Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Eliminasi Malaria tanggal 18 Mei 2010. Sedangkan pada puncak acara akan dilakukan peresmian Malaria Center di Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara oleh Menteri Kesehatan tanggal 24 April 2010.

Sebaran malaria dibedakan menjadi daerah non endemis dan endemis. Daerah dikatakan non endemis bila di daerah itu tidak terdapat penularan malaria atau angka kejadian malaria (Annual Parasite Incident = API ) nol. Termasuk daerah non endemis adalah provinsi DKI Jakarta, Bali, dan Kepri (Barelang Binkar).

Sedangkan daerah endemis malaria dibedakan menjadi endemis tinggi, endemis sedang dan endemis rendah.

Dikatakan endemis tinggi bila API-nya lebih besar dari 50 per 1.000 penduduk yaitu di Provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sumatera Utara (Kab. Nias dan Nias Selatan), dan NTT.

Endemis Sedang bila API-nya berkisar antara 1 sampai kurang dari 50 per 1.000 penduduk yaitu di provinsi Aceh (Kab. Siemeulu), Bangka Belitung, Kepri (Kab. Lingga), Jambi (Kab. Batang Hari, Merangin, dan Sorolangun), Kalimantan Tengah (Kab. Sukamara, Kota waringin barat), Mura), Sulteng (Kab. Toli-toli, Banggai, Banggai Kepulauan, Poso), Sultra (Kab. Muna), NTB (Sumbawa Barat, Dompu, Kab.Bima, dan Sumbawa), Jawa Tengah (Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Pekalongan dan Sragen), Jawa Barat (Sukabumi, Garut, dan Ciamis).

Endemis rendah bila API-nya 0 – 1 per 1.000, diantaranya sebagian Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Upaya pemerintah dalam program pengendalian malaria yaitu Diagnosa Malaria harus terkonfirmasi mikroskop atau Rapid Diagnostic Test; Pengobatan menggunakan Artemisinin Combination Therapy; Pencegahan penularan malaria melalui: distribusi kelambu (Long Lasting Insecticidal Net), Penyemprotan rumah, repellent, dan lain-lain; Kerjasama Lintas Sektor dalam Forum Gebrak Malaria; dan Memperkuat Desa Siaga dengan pembentukan Pos Malaria Desa (Posmaldes).

Seseorang yang terkena malaria dapat mengalami anemia. Pada kasus malaria berat dapat menyebabkan koma, kegagalan multi organ serta menyebabkan kematian.Namun malaria dapat dicegah.

Cara mencegah malaria yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk malaria diantaranya dengan tidur di dalam kelambu, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk (Repelent); membersihkan tempat-tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk; membunuh nyamuk dewasa dengan menyemprot rumah-rumah dengan racun serangga; membunuh jentik-jentik nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik; membunuh jentik nyamuk dengan menyempot obat anti larva (jentik) pada genangan air dan melestarikan hutan bakau di rawa-rawa sepanjang pantai

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. 

Survailans Epidemiologi


Survailans ibarat sebuah nyawa bagi ilmu epidemiologi. Hasil Survailans digunakan sebagai perencanaan untuk semua kegiatan pencegahan penyakit dimasyarakat. Berikut ini mungkin bisa memberikan pengetahuan awal kita mengenai “Mengapa Survailans Itu Penting”. Sebelumnya saya mohon maaf karena file ini saya peroleh dari materi kuliah saya di Pascasarjana UNHAS dan semoga berguna untuk kemajuan kesehatan masyarakat. VIVA PUBLIC HEALTH. Baca lebih lanjut