MohamadGuntur’s Weblog

Hubungan Pencemaran Udara Dengan Menopause

  Hubungan Pencemaran Udara Dengan Menopause

Peningkatan resiko yang diakibatkan oleh pencemaran semakin memburuk sehinga setiap 10mg meter kubik meningkatkan partikel halus yang menyebabkan resiko serangan jantung meningkat menjadi 24% dan resiko terjadinya kematian sebesar 76% demikian yang dikemukakan oleh Kristin A Miller M.S., University of Washington, dan rekannya, dalam studi observasi.

Resiko terjadinya serangan jantung meningkat 35% karena meningkatnya pencemaran udara (HR 1.35,95% CI, 1.08-1.68) demikian laporan terbitan New England Journal of Medicine tanggal 1 Februari. Penemuan-penemuan tersebut berasal dari studi yang dilakukan pada wanita masa menopos yang jumlahnya 65.893 yang mengambil bagian dalam Women’s Health Initiative.

  Para peneliti memeriksa perbedaan kadar polusi di satu kota sampai ke kota yang lain, sebagaimana juga perbedaan kadar pencemaran udara yang terjadi di tempat sekitar kota-kota yang dijadikan pilihan.Para wanita yang mengambil bagian dari tahun 1994 sampai 1998, tingal di 36 wilayah Metropolitan Statistical Area, Amerika Serikat. Mereka yang mengambil bagian berusia antara 50 samapi 79 tahun pada baseline dan tidak punya riwayat penyakit jantung.

Para wanita tersebut diikuti sekitar enam tahunan dan hanya wanita yang tinggal dalam lingkungan 30 mil dari pantauan Environmental Agency sehingga kadar butiran-butiran halus yang tercatat 2.5 ug atau kurang, tercakup dalam analisis.

Peristiwa-peristiwa serangan yang terjadi ditentukan dari tanggapan kepada kuesioner tahunan dan ulasan catatan medis. Peristiwa terjadinya penyakit jantung pertama disebut sebagai myocardial infarction, coronary revascularization, stroke dan kematian akibat penyakit jantung atau penyakit cerebrovascular.

Diantara penemuan-penemuan tersebut adalah:

Sebanyak 1.816 wanita mengalami satu kali atau lebih peristiwa cardiovascular. Meskipun perkiraan kejadian di dalam lingkungan kota cenderung lebih besar dibandingkan perbedaan-perbedaan antar kota, perbedaan ini secara statistic tidak begitu besar artinya.

Hubungan antara kadar polusi akibat butiran-butiran dan terjadinya cardiovascular adalah lebih kuat dengan meningkatnya kegemukan seperti yang diukur oleh BMI (P-0.02) dan perbandingan pinggang dengan pinggul (P=0.05).

Tingkat pendidikan maupun penghasilan rumah tangga tidak ada yang mampu melakukan perubahan besar hubungan antara pencemaran udara dan resiko cardiovaskuler.

Walau bagaimanapun para wanita mempunyai sejumlah resiko khusus akibat jenis kelamin mereka. Ini merupakan serangan jantung yang lebih kecil sehingga mungkin saja “tenaga kerja lebih banyak penyebaran atherosclerosisnya dari pada kaum laki,” yang lebih banyak mengalami disfungsi mikrovaskuler, dan ditandai dengan meningkatnya diabetes, kegemukan, tekana  darah tinggi dan masa tidak aktif setelah menopos. Semua ini mengacaukan hubungan antara pencemaran udara dengan resiko cardiovaskuler, demikian ditulis oleh editor Duglas W. Dockery, Sc.D., dan Peter H.Stone, M.D., dari Harvard Medical School.

Sebagai akibatnya, “kelamin mungkin tidak memberikan batasan kerentanan terhadap polusi udara. Tetapi lebih merupakan indicator dari landasan yang menempatkan wanita dengan peningkatan resiko,” demikian menurut Drs. Dockery dan Stone.

Ini berarti mereka mengakui bahwa “tidak dapat dipungkiri bahwa penghirupan partikel polusi udara mengakibatkan dan  memperburuk baik pulmonary maupun sustomic inflammation serta tekanan oxidative, yang mengakibatkan luka pada vascular, atherosclerosis dan disfungsi autonomic.”

Selain itu, mereka menyebutkan sejumlah studi yang menghubungan peningkatan tingkat polusi udara dengan partikel halus dengan terbentuknya plak atherosclerotic, juga meningkatnya fibrinogen, plasma viscosity, platelet activation dan endothelins.

Secara keseluruhan, mereka menyampaikan bahwa beban bidang kesehatan masyarakat mengenai “penyakit jantung yang ditimbulkan oleh polusi udara adalah benar; bukti mengisyaratkan bahwa resiko-resiko pribadi merupakan hal biasa.

Menurut kesimpulan para penulis yang menjadi tugas beratnya adalah menggnunakan data dari Women’s Health Initiative untuk “mengidentifikasi faktor-faktor yang sesungguhnya dan yang masing-masing diperoleh yang mungkin mengarah kepada meningkatnya resiko cardiovaskuler yang disebabkan oleh polusi udara” sehingga kemungkinan menawarkan campur-tangan dari orang-orang yang berada pada tingkat resiko yang lebih besar dengan demikian akan bisa memperbaiki minimal kerusakan-kerusakan tertentu pada pasien karena polusi udara.”

Sumber : jdokter.com

Leave a Comment