PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR PADA PENGUNGSIAN Januari 26, 2012
Posted by mohamadguntur in Epidemiologi Kesehatan Darurat.add a comment
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yg disebabkan oleh alam atau manusia yg mengakibatkan timbulnya korban & penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana prasarana umum, gangguan terhadap tata kehidupan & penghidupan masyarakat serta pembangunan nasional, sehingga untuk pemulihannya memerlukan bantuan dari luar.
Pengetahuan untuk pengelolaan bencana sangat penting untuk mengantisipasi penyakit menular saat dan pasca bencana. Bila usaha tidak segera dilakukan maka akan terjadi hal yang lebih buruk. Yang paling penting adalah melindungi pengadaan air bersih, suplai makanan serta menyediakan sanitasi lingkungan yang baik, serta memonitor kondisi masyarakat secara cepat.
2010 in review Januari 3, 2011
Posted by mohamadguntur in Kumpulan Materi Tentang Epidemiologi.1 comment so far
The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.
Crunchy numbers

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.
A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 10,000 times in 2010. That’s about 24 full 747s.
In 2010, there were 23 new posts, growing the total archive of this blog to 45 posts. There were 19 pictures uploaded, taking up a total of 31mb. That’s about 2 pictures per month.
The busiest day of the year was November 30th with 104 views. The most popular post that day was Kumpulan Soal TEs CPNS Gratis.
Where did they come from?
The top referring sites in 2010 were id.wordpress.com, google.co.id, eka.web.id, 96147.com, and search-results.com.
Some visitors came searching, mostly for pengertian epidemiologi, istilah epidemiologi, istilah-istilah epidemiologi, materi epidemiologi, and artikel kesehatan.
Attractions in 2010
These are the posts and pages that got the most views in 2010.
Kumpulan Soal TEs CPNS Gratis November 2007
28 comments
PENGERTIAN DAN PERANAN EPIDEMIOLOGI November 2007
5 comments
Istilah-istilah Epidemiologi(Terminology) November 2007
2 comments
Artikel Kesehatan December 2007
MATERI KULIAH PASCA October 2007
5 comments
Efektivitas Penggunaan Malathion Dalam Pemberantasan Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Kendari (Alias,SKM) November 3, 2010
Posted by mohamadguntur in Artikel KEsehatan, Current Issue, Hasil Penelitian.1 comment so far
Ringkasan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mandala Waluya Kendari
Kesehatan Masyarakat Jurusan Epidemiologi
Skripsi, Juli 2010
ALIAS . Efektivitas Penggunaan Malathion Dalam Pemberantasan Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Kendari
Pengendalian vektor penyakit Demam Berdarah Dengue masih menggunakan penyemprotan dengan thermal foging salah satunya di Kota Kendari, namun metode ini di samping mempunyai efek yang merugikan bagi manusia dan lingkungan juga dapat menyebabkan kekebalan pada vektor sasaran bila penggunaan konsentrasinya tidak sesuai lagi dengan standar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan malathion dalam pemberantasan vektor penyakit Demam Berdarah Dengue.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini adalah semua nyamuk Aedes sp yang diperoleh melalui pembiakan jentik di Laboratorium Entomologi AKL-MW Sultra dengan jumlah sampel 15 ekor nyamuk Aedes sp betina untuk setiap kurungan percobaan.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa persentase kematian nyamuk sebesar 45 % untuk konsentrasi malathion 4 % sedangkan persentase kematian pada konsentrasi malathion 8 % dan 16 % masing-masing sebesar 100 %.
Hasil analisis statistik dengan uji korelasi diperoleh nilai r = 0.87 menunjukan korelasi positif artinya semakin tinggi konsentrasi malathion semakin tinggi pula persentase kematian nyamuk uji. Uji hipotesis menunjukkan nilai Zo > Z tab (1.515 > 0.878) artinya ada pengaruh konsentrasi malathion dalam pemberantasan vektor penyakit DBD pada taraf kepercayaan 95 % (α=0.05). untuk persamaan regresi liniernya adalah Y = 0.1855 + 0.061X, sehingga LD 50 berada pada dosis 5.15 % dan LD 95 berada pada dosis 12.5 %. Dengan demikian konsentrasi malathion 5 % tidak efektif untuk digunakan lagi di Kota Kendari. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Kendari agar mencari alternatif insektisida lain dalam pemberantasan vektor penyakit DBD.
Daftar Pustaka : 27 (1986-2010)
Kata Kunci : Efektivitas, Malathion, Vektor, Penyakit DBD
IMUNISASI EFEKTIF MENEKAN ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN BAYI Oktober 29, 2010
Posted by mohamadguntur in Current Issue.add a comment
Masalah kematian akibat campak di dunia pada tahun 2002 sebanyak 777.000 di antaranya 202.000 berasal dari Negara ASEAN, dan 15% dari kematian campak tersebut berasal dari Indonesia. Diperkirakan 30.000 anak Indonesia meninggal tiap tahunnya disebabkan komplikasi campak, artinya 1 anak meninggal tiap 20 menit karena setiap tahunnya lebih dari 1 juta anak Indonesia belum terimunisasi campak. Campak salah satu Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) dan merupakan salah satu penyebab kematian anak di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5 % pada anak balita adalah akibat PD3I. Salah satu upaya yang efektif untuk menekan angka kesakitan dan kematian bayi dan balita adalah dengan imunisasi, sedangkan upaya imunisasi akan efektif bila cakupan dan kualitasnya sudah optimal.
Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI Dr.Ratna Rosita Hendardji, MPHM saat kampanye imunisasi campak dan polio di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, 6 Oktober 2010.
Sesjen menjelaskan program Imunisasi rutin campak di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1984 dengan kebijakan memberi 1 dosis pada bayi usia 9 bulan. Pada awal pelaksanaan tahun 1984 cakupan campak sebesar 12,7%, kemudian meningkat sampai 85,4% pada tahun 1990 dan bertahan sampai 91,8 % pada tahun 2004.
Namun demikian dengan mempertimbangkan serokonversi (perkembangan antibodi yang dapat dideteksi pada mikroorganisme dalam serum sebagai akibat dari infeksi atau imunisasi) rate 85% pada bayi umur 9 bulan, cakupan Imunisasi campak sebesar 91,8% pada tahun 2004 hanya dapat melindungi sekitar 76,5 % bayi, sisanya sebesar 23,5 % masuk dalam kelompok rentan campak. Kelompok rentan ini akan terus terakumulasi yang berisiko mengakibatkan KLB Campak, karenanya diperlukan intervensi imunisasi tambahan campak pada anak balita, ujar Sesjen.
Menurut Sesjen, sesuai dengan kajian Depkes RI bersama Technical Advisory Group (TAG)/Komite Ahli Imunisasi Idonesia, WHO dan UNICEF terhadap upaya pengendalian penyakit campak yang didasarkan pada data epidemiologis, akumulasi anak balita tidak mendapatkan imunisasi dan anak-anak yang tidak mendapatkan kekebalan setelah pemberian satu dosis campak karena beberapa faktor diantaranya rendahnya imunisasi rutin maupun imunisasi tambahan yang dilakukan sebelumnya (2005-2007).
Untuk itu Kampanye Imunisasi Campak dan polio di Indonesia dilaksanakan secara bertahap selama tahun 2009 – 2011 yang telah dituangkan melalui SK Menteri Kesehatan Nomor 143/Menkes/SK/VI/2009 tentang Penyelenggaraan Kampanye Campak dan Polio Tambahan secara bertahap tahun 2009-2011, yaitu:
• Tahap pertama, tahun 2009 dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 di 3 provinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara dan Maluku Utara.
• Tahap kedua, Tahun 2010, dilaksanakan pada bulan Oktober di 11 Provinsi yaitu Maluku, Papua Barat, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur dan Banten;
• Sedangkan, Tahap ketiga, Tahun 2011 akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2011 di 14 provinsi: Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Papua.
Sesjen menyampaikan apresiasinya kepada Gubernur Sumatera Barat beserta seluruh jajaran pemerintah daerah, organisasi-organisasi, dan seluruh masyarakat yang telah mendukung penyelenggaraan kampanye campak dan polio tambahan ini.
Sesjen juga berharap penyelenggaraan kampanye campak dan polio di Provinsi Sumatera Barat ini dapat berjalan dengan baik dan dapat menjangkau seluruh sasaran yang ada, termasuk bayi-bayi yang ada di pulau-pulau terpencil. Tentunya dengan dukungan program dan sektor terkait. Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota beserta jajarannya juga diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kampanye ini.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.
PERKEMBANGAN HIV/AIDS DI INDONESIA SAMPAI JUNI TAHUN 2010 Oktober 29, 2010
Posted by mohamadguntur in Current Issue.add a comment
Pada periode triwulan kedua tahun 2010 terdapat penambahan kasus AIDS sebanyak 1.206 kasus. Sebanyak 36 kabupaten/kota dari 16 provinsi melaporkan hal tersebut yaitu NAD, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.
Dengan demikian, sampai tanggal 30 Juni 2010, secara kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sejak tahun 1978 berjumlah 21.770 dari 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1. Kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Riau dan Sumatera Barat. Rate kumulatif kasus AIDS nasional sampai 30 Juni 2010 adalah 9,44 kasus per 100.000 penduduk. Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari Provinsi Papua (14,34 kali angka nasional), Bali (5,2 kali angka nasional), DKI Jakarta (4,4 kali angka nasional), Kep. Riau (2,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (1,8 kali angka nasional), Maluku (1,5 kali angka nasional), Bangka Belitung (1,2 kali angka nasional), Papua Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Riau (1,0 kali angka nasional).
Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20-29 tahun (48,1%), diikuti kelompok umur 30-39 tahun (30,9%), dan kelompok umur 40-49 (9,1%). Sementara cara penularan terbanyak adalah melalui hubungan heteroseksual (49,3%), Injection Drug Use/IDU (40,4%), Lelaki Seks Lelaki (3,3%), dan perinatal (2,7%).
Proporsi kasus AIDS yang dilaporkan meninggal sebesar 19,0%. Infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah TBC (10.648 kasus), diare kronis (6.392 kasus), Kandidiasis oro-faringenal (6.412 kasus), Dermatitis generalisata (1.623 kasus), dan Limfadenopati generalisata persisten (770 kasus).
Sementara untuk kasus HIV positif, sampai dengan 30 Juni 2010 secara kumulatif berjumlah 44.292 kasus dengan positive rate rata-rata 10,3%. Jumlah kasus baru pada triwulan kedua 2010 sebanyak 3.916 kasus. Daerah yang paling banyak terjadi kasus HIV positif adalah DKI Jakarta (9.804 kasus), Jawa Timur (5.973 kasus), Jawa Barat (3.798 kasus), Sumatera Utara (3.391 kasus), Papua (2.947 kasus), dan Bali (2.505 kasus).
Sampai saat ini HIV/AIDS belum ada vaksin maupun obatnya. Obat yang ada adalah (ARV=Anti Retroviral Virus) yang berfungsi hanya untuk menekan perkembangan virus. Perawatan HIV di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2005 dengan jumlah yang masih dalam pengobatan ARV pada tahun 2005 sebanyak 2.381 (61% dari yang pernah menerima ARV).
Kemudian sampai 30 Juni 2010 terdapat 16.982 ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang masih menerima ARV (60,3% dari yang pernah menerima ARV). Jumlah ODHA yang masih dalam pengobatan ARV tertinggi berasal dari DKI Jakarta (7.242), Jawa Barat (2.001), Jawa Timur (1.517), Bali (984), Papua (685), Jawa Tengah (575), Sumatera Utara (570), Kalimantan Barat (463), Kepulauan Riau (426), dan Sulawesi Selatan (343). Kematian ODHA menurun dari 46% pada tahun 2006 menjadi 18% pada tahun 2009.
Demikian laporan situasi perkembangan HIV/AIDS di Indonesia triwulan kedua tahun 2010 berdasarkan data dari Sub Direktorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP &PL) Kemenkes.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.
Kamus Epidemiologi,edisi 5 Oktober 29, 2010
Posted by mohamadguntur in Ebook EPIDEMIOLOGY.add a comment
HERI PAERUNAN. Perbandingan Diagnosis Malaria Klinis dan Pemeriksaan Mikroskopis di Puskesmas Bunta Kabupaten Banggai Tahun 2009 Oktober 28, 2010
Posted by mohamadguntur in Artikel KEsehatan, Hasil Penelitian, Kumpulan Jurnal Epidemiologi.add a comment
Penyakit malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan dunia terutama di negara sedang berkembang pada kawasan tropik dan subtropik. Di Indonesia sampai saat ini angka kesakitan penyakit malaria masih cukup tinggi terutama di luar daerah Jawa dan Bali. Secara khusus di Puskesmas Bunta Kabupaten Banggai, insiden malaria tahun 2008 masih tinggi (AMI) sebesar 109,9‰.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) membandingkan hasil diagnosis malaria klinis dengan pemeriksaan mikroskopis, (2) mengetahui hubungan antara gejala dan tanda klinis malaria terhadap hasil pemeriksaan mikroskopis, (3) mengetahui dan mendapatkan gejala dan tanda klinis malaria yang paling berhubungan dengan pemeriksaan mikroskopis.
Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Bunta Kabupaten Banggai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional dengan design cross sectional study dengan mewawancarai dan mengambil sediaan darah penderita suspek malaria sebanyak 150 orang sebagai responden. Pengambilan sampel dilakukan di Puskesmas (PCD) dan di rumah penduduk (ACD). Data dianalisis dengan program SPSS secara univariat, bivariat (uji chi-square), dan multivariat (logistik regresi berganda).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita malaria klinis yang positif berdasarkan pemeriksaan mikroskopis (SPR) sebanyak 52%. Gejala dan tanda klinis malaria yang berhubungan denga pemeriksaan mikroskopis adalah menggigil, sakit kepala, nyeri otot/tulang, pusing, demam berdasarkan pengukuran suhu, anemia, dan splenomegali. Gejala klinis yang paling berhubungan dengan pemeriksaan mikroskopis adalah sakit kepala, sedangkan tanda klinis yang paling berhubungan dengan pemeriksaan mikroskopis adalah splenomegali. Diagnosis klinis malaria dapat dijadikan sebagai alternatif diagnosis penyakit malaria bagi daerah endemis yang mempunyai keterbatasan dalam hal pemeriksaan mikroskopis.
KUSTA DAN FRAMBUSIA PENYAKIT TERABAIKAN Oktober 28, 2010
Posted by mohamadguntur in Artikel KEsehatan.add a comment
Penyakit kusta bila tidak tidak dideteksi dan diobati secara dini berakibat cacat. Bila sudah cacat, penderitanya dijauhi, dikucilkan dan diabaikan sehingga sulit mendapatkan pekerjaan. Mereka menjadi sangat tergantung secara fisik dan finansial kepada orang lain yang pada akhirnya berujung pada kemiskinan.
Karena itu, rehabilitasi penderita dan mantan penderita kusta sangat penting. Adapun rehabilitasi yang dibutuhkan adalah rehabilitasi secara komprehensif, yang meliputi fisik, sosial dan ekonomi. Dengan rehabilitasi itu diharapkan, orang yang pernah mengalami kusta dapat memperoleh hak dan kesempatan yang sama untuk bekerja dan hidup dalam lingkungan sosial secara mandiri dan bermartabat.
Hal itu disampaikan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH, ketika membuka Pertemuan Aliansi Nasional Eliminasi Kusta (ANEK) dan Eradikasi Frambusia, di Jakarta 30 Agustus 2010.
”Misi program pengendalian penyakit kusta adalah menyembuhkan dan meningkatkan kualitas hidup penderita kusta. Kualitas hidup seseorang tidak hanya diukur dari aspek kesehatannya saja, akan tetapi juga dari aspek-aspek lain seperti sosial, ekonomi, emosional, dan hak azasi, sehingga perlu bermitra dengan sektor terkait”, tegas Menkes.
Menurut Menkes, program pengendalian kusta telah berhasil mengobati dan menyembuhkan 375.119 penderita dengan Multi-Drug Therapy (MDT) sejak 1990 dan telah menurunkan 80% jumlah penderita dari 107.271 pada tahun 1990 menjadi 21,026 penderita pada tahun 2009. Namun beban akibat kecacatan masih tinggi, yaitu sekitar 1.500 kasus cacat tingkat 2 ditemukan tiap tahunnya di Indonesia. Secara kumulatif sejak tahun 1990 – 2009, terdapat sekitar 30.000 kasus cacat tingkat 2 (mata tidak bisa menutup karena syarafnya terganggu, jari tangan atau kaki bengkok (kiting), luka pada telapak tangan dan kaki akibat mati rasa).
“Sejak tahun 2000, program pengendalian penyakit kusta Nasional melaporkan 17,000 – 18,000 kasus baru setiap tahun dan belum ada kecenderungan menurun. Proporsi kasus baru kusta MB (Multi Basiler/kuman banyak), kasus baru kusta dengan kecacatan tingkat 2, dan kasus baru kusta pada anak masih tetap tinggi. Indonesia masih merupakan negara ketiga di dunia dan kedua di Asia Tenggara sebagai negara dengan kasus baru kusta paling banyak”, ujar Menkes.
Menkes menambahkan, meskipun Indonesia telah mencapai eliminasi pada tingkat nasional, karena angka prevalensi < 1 per 10.000 penduduk pada tahun 2000, namun sampai saat ini masih ada 14 provinsi dengan jumlah kasus kusta tinggi. Empat provinsi diantaranya yakni Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan melaporkan lebih dari 1.000 kasus per tahunnya.
Melihat besarnya beban akibat kecacatan kusta, WHO mencanangkan target “Global Strategy for Further Reducing the Disease Burden Due to Leprosy 2011-2015” yakni menurunkan 35% angka cacat tingkat 2 pada tahun 2015 dari data tahun 2010.
Neglected Tropical Disease
Menurut Menkes, satu penyakit lagi yang termasuk dalam kelompok penyakit yang terabaikan (Neglected Tropical Disease), yang perlu mendapat perhatian adalah Frambusia.
Menurut Menkes, saat ini Indonesia merupakan penyumbang terbesar kasus Frambusia di Asia Tenggara. Meskipun secara nasional angka prevalensinya sudah sangat rendah, data frambusia tahun 2009 masih ditemukan 8.309 kasus yang tersebar di provinsi wilayah timur Indonesia yaitu NTT, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua dan Papua Barat, kata Menkes.
Tingginya jumlah kasus tersebut menunjukkan, penularan masih terus berlangsung. Hal itu disebabkan karena penderita frambusia banyak tinggal di daerah pedalaman yang keadaan lingkungannya kurang mendukung dan sulit dijangkau pelayanan kesehatan. Padahal, cara pengendaliannya sangat sederhana yaitu dengan satu kali penyuntikan benzatin penicillin penderitanya dapat disembuhkan.
Untuk itu diperlukan strategi pengendalian dengan melibatkan seluruh sektor dan elemen masyarakat agar eradikasi frambusia bisa segera tercapai. Secara nasional telah ditargetkan tahun 2013, sebagai tahun tercapainya Eradikasi Frambusia, ujarnya.
Selain Frambusia, penyakit lain yang termasuk dalam kelompok penyakit yang terabaikan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia adalah Filariasis (Kaki Gajah) dan Kecacingan. Keempat penyakit terabaikan ini memberikan gambaran visual yang amat nyata antara hubungan kesehatan dan pembangunan. Kondisi kemiskinan memicu berjangkitnya penyakit-penyakit ini, dan dampaknya akan berujung pada kemiskinan, imbuh Menkes.
Pada kesempatan tersebut Menkes menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada berbagai pihak seperti WHO, Netherlands Leprosy Relief (NLR), Sasakawa Memorial Foundation, Yayasan Transformasi Lepra Indonesia (YTLI), Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa), Yayasan Kusta Indonesia (YKI), Rumah Zakat dan semua elemen masyarakat yang telah bekerja aktif dalam penanggulangan penyakit Kusta, Frambusia dan dampak yang ditimbulkannya di Indonesia.
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof. Tjandra Yoga Aditama menyatakan tujuan pertemuan adalah meningkatkan komitmen pengambil kebijakan untuk mempercepat eliminasi kusta dan eradikasi frambusia di tingkat provinsi dan kabupaten.
Ditambahkan, berdasarkan laporan WHO tahun 2008, Indonesia menempati urutan ketiga negara penyumbang penderita kusta baru terbanyak setelah India dan Brazil. Tantangan yang dihadapi adalah statisnya tren penemuan penderita baru kus MB dan cacat tingkat 2.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN FLU BURUNG PADA PETERNAKAN UNGGAS RAKYAT KOMERSIAL DI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG 2007-2009 Oktober 28, 2010
Posted by mohamadguntur in Artikel KEsehatan, Hasil Penelitian, Kumpulan Jurnal Epidemiologi.add a comment
FAKTOR RISIKO KEJADIAN FLU BURUNG PADA PETERNAKAN UNGGAS
RAKYAT KOMERSIAL DI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG 2007-2009
oleh Muhlis Natsir, A.Zulkifli Abdullah dan Ridwan M.Thaha
ABSTRACT
MUHLIS NATSIR. Risk Factors Avian Influenza In Poultry Farming of Commercial Sidrap
Regency Year 2007-2009. (Supervised by A. Zulkifli Abdullah and Ridwan M. Thaha).
Bird flu or Avian Influenza (AI) is a contagious disease that can infection all types of
birds, humans, pigs, horses and dogs and is caused by Avian Influenza virus type A of the
Orthomyxoviridae family. Bird flu virus is zoonosis and it has a high mutation rate, so that this
disease has a social impact, economic and political big enough.
This study aims to analyze some of the risk factors bird flu outbreak in commercial
layer poultry farm in the District Sidrap years 2007-2009.
Research design used was analytical observasional Case Control Study. Research in April – May
2009. Elections sample purposively sampling of 136 poultry farm layer consisting of 68 sample
cases as livestock and animal husbandry as 68 control samples. Data analyzed with the test Odds
Ratio (OR) and logistic regression with convidence interval 95% (α = 0.05).
Results of this research show that the breeder has knowledge OR 4.371 (CI = 2.089 – 9.144);
environmental hygiene pen OR 2.460 (CI = 1.128 – 5.366); hygiene personnel cage OR 10.086
(CI = 4.182 – 24.327); interval enclosure OR 4.218 ( CI = 2.042 – 8.713); distance pen OR 2.962
(CI = 1.366 – 6.420) System maintenance is not contemporary OR 8.907 (CI = 3.907 – 18.407)
and the existence of wild animals OR 1.436 (CI = 0.621 – 3.320). From the results of the research
conclude that the personnel cage, cage environmental hygiene, hygiene of personnel cage, cage
rest time, distance, and system maintenance shed that is not contemporary risk factors is a bird
flu outbreak. Hygiene of personnel is the enclosure of most risk factors for bird flu outbreak.
Biosekurity conducted in each period of maintenance to prevent the risk of transmission disease
agents, and conducted further research on the mechanism for their role factor in the cause of the
spread of bird flu virus, and socialization to the farm in order to perform decontamination
personnel cage at the time of entry and exit enclosure.
Keywords: Avian Influenza, case control, people of a commercial poultry farm
